Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kamu

Biar Rindu

Biar rindu tersekat diam, lamat-lamat dieja perlahan. Biar rindu diterbangkan angan, menyapa dia yang memiliki harapan. Biar rindu terbungkam, berlari-lari mencari jawaban. Biar rindu mengejar kamu, yang menyublim menghindari temu. Biar rindu memeluk kenangan, yang dengan anggun menari pada tiap pikiran. Biar rindu menjadi predikat dan kamu adalah objek, sedang aku lah subjek nya.

Kenangan yang telah usang

Dari balik sinaran mentari yang tersingkap Pagi menyapa pelan Melupakan nyanyian bimbang semalam Ada gurat senyum terpancar dari wajahnya yang semula pucat Ada usaha besar yang kubaca dari sorot matanya Ia mencoba bangun Bergegas hendak meraih tas gendongnya "Mau kemana?", kataku membuka percakapan Sunyi, tak ada jawaban. Ia masih sibuk dengan beberapa peralatan yang nyaris kelupaan karena ada di dalam lemari tua Ku lihat ia melipat kertas yang tak kalah usang daripada bajunya "Aku harus pergi.", ujarnya menjawab pertanyaanku. Otakku sudah menangkap sinyal itu sebelum dia akhirnya berkata Aku tau benar kemana dia akan pergi Hingga akhirnya kulihat bayang nya hilang di ujung pintu, langkah kaki nya tak lagi tertangkap oleh gendang telingaku Aku tak bisa mencegahnya lagi Ia telah pergi Meninggalkan kenangan yang akan menjadi usang, karena termakan zaman Menyisakan ingatan yang menjadi tanya, karena tergerus keadaan

Ekspektasi

Aku adalah pengelana, yang akan terus berusaha menjelajahi pikirmu, memaknai setiap gerikmu. Aku terasing di duniaku yang tak lagi bisu. Terkungkung dalam deru angin pencipta lirih. Rutinitas itu belakangan ku tekuni. Entahlah, kekaguman begitu saja terkait pada pengamatan. Aku ingin, tapi keadaan membungkam langkah. Ekspektasi membukakan jalan untuk harapan. Namun kenyataan memutus begitu saja semua harapan itu.

Rindu (lagi)

Lagi-lagi rindu.. Lagi-lagi sendu.. Kenapa rindu acap kali menyuguhkan sendu? Pun bahkan jika yang dirindukan adalah orang terkasihmu. Lagi-lagi rindu.. Lagi-lagi semu.. Langit cerahku dengan cepat me-mimikri-kan warnanya, setelah mendapatiku yang sedang merindu. Lagi-lagi rindu.. Lagi-lagi harus menunggu.. Menunggu kedatangan sang waktu, yang konon katanya sangat berpengaruh besar pada kemungkinan pertemuan aku dan kamu. Lagi-lagi rindu.. Lagi-lagi berteman pilu.. Tanpa kusadari, rindu ku akan berujung pilu jika tak segera ku temukan senyum dan sorot mata tajammu. Lagi-lagi rindu.. Lagi-lagi kamu.. Ketika aku terbangun dari tidurku, aku mendapati seorang berwajah lesu. Ketika ku tanya mengapa, hatinya menjawab, bahwa ia mendapati dirinya yang sedang merindu. Merindu serindu-rindunya, akan kehadiran kamu.

Dear, pengagum senja.

Selamat menikmati senjamu hari ini... Aku sedang senang dengan diam, dia mengajariku berpetualang. Petualangan yang sangat tak terperi, karena menjelajahi pikir adalah hal yang tak semua orang mengerti. Hendak kemana lagi bila tak seorang diri? Mengharapkan yang tak seharusnya ada, bukankah itu mencipta gulana? Lalu, lamat-lamat kau mencoba membahasakan sunyimu. Bukan hendak dimengerti. Namun kau hanya ingin terlihat sesederhana orang yang paling sederhana. Mengapa senja bisa sebegitu dekat dengamu? Kulihat senyumnya kau peluk, tawanya kau cumbu. Kutahu, untuk memahami memang sama halnya dengan mengerahkan sekian banyak usaha Apalagi untuk memahami sesosok mahluk Tuhan bernama, kamu. Karena kau adalah teka-teki yang selalu ku cari jawabannya pada setiap malam. Bila cahya malam redup, aku akan menunggu pagi agar dapat mencari lagi. Begitu terus hingga ku lewati setiap siklus kehidupan ini. Karena untuk mengenali, orang bilang, sampai mati pun kau takkan pernah mengena...

Haruskah kasih itu bergelar memiliki?

Sengaja kutuliskan ini dikala imajiku sedang melayang terbang tak menentu. Selamat datang kembali di dunia bisuku. Dunia yang menyimpan lebih banyak makna yang tak sempat kututurkan karena waktu. Ada sebuah asa yang sengaja kujamahkan dalam setiap doa kala malam menemui sang bulan dan kala bintang tertunduk sendirian dalam arti kiasan. Baiklah, kembali lagi pada topik bahasan awal.Pernah mendengar cinta bukan? Yah, kupikir itu bukan makanan asing lagi bagimu. Nampaknya kau sudah terlalu sering mengecap rasa itu dalam bagian manapun lidahmu. Lalu, bisakah kau menjelaskan bagaimana rasa tepatnya padaku? Aku ingin tahu, sungguh. Jika sudah begitu, berapa lelaki yang harus kau pacari hingga kau mengerti dengan sepenuh hati? Dan apakah untuk mengerti itu berarti kau harus bergerak pada langkah bernama pacaran? Sudahlah, aku tak ingin membuat semua itu lebih rumit adanya. Yang kutahu, saat kau berada di dekat lelakimu, kau pasti akan mengemas semuanya menjadi lebih baik dan sempurna....

Pada Hujan Sore Itu

Kutitipkan rindu ini untukmu, pada hujan sore itu. Apakah gerangan sudah disampaikan olehnya? Tak kunjung kudengar ada sapa balas yang kau rajut dalam kalimat-kalimat apikmu. Kutitipkan salam ini untukmu, pada hujan sore itu. Masihkah kau berdiri dengan keyakinanmu yang dulu? Yang kau banggakan layaknya dedaunan yang bertahan pada ranting yang ia singgahi. Yang tak henti mengemis pada waktu, untuk menyediakan sejenak saja kesempatan bagi "kita" untuk bertemu. Kutitipkan sepucuk surat tersirat ini untukmu, pada hujan sore itu. Tak banyak memang yang bisa ku ucap. Aku tak terlalu pandai dalam menafsirkan kata yang dibentuk oleh hatiku sendiri. Bukankah itu terdengar sangat lucu? Saat perasaanku sendiri, tak lagi dapat aku mengerti. Kutitipkan rasa ini untukmu, pada hujan sore itu. Terngiang manis dalam tiap ingatan kala aku hampir terlelap dalam mimpi setiap malam. Yang terbayang adalah kharisma yang tak henti membuatku menuturkan suka. Menerjemahkan cinta pada...

Kuharap tak ada yang salah dari sebuah pertemuan

Dan deru angin itu masih terus membujukku untuk memasuki bilik yang berbeda dari tempatku kini Seakan ada keresahan yang teramat sangat dari sebuah naluri pahit Hah, lagi-lagi harus ada pertemuan! Dan apa kau tau? Orang yang kutemui itu.... adalah dia yang beberapa kali memasuki pikiranku tanpa permisi sedikit pun.. Jadi bisakah kau menyimpulkan orang macam apakah dia itu? Bak langit merona aurora jingga di tebaran bintang Aku tak lagi samar memandangi dan membayangkan kehadirannya yang nyata Atau mungkin aku baru saja menaruh terlalu banyak harap yang membuatku mengatakan kehadiranmu itu "NYATA" Baiklah, ku akui. Aku memang pengharap dan pemimpi handal. Dan kau adalah objek dari semua itu kini. Ya tentu saja bukan melulu tentangmu, karena hidupku berprinsip pada hal yang ada di depan sana. Hanya saja, kau mendadak menjadi satu yang ku eja dalam beberapa kalimat-kalimat berantakan yang tak pernah orang mengerti. Kuharap tak ada yang salah dari sebuah pertemuan...

Sebut saja, Rindu.

Aku pikir tak terlalu berlebihan jika menamakan ini semua dengan kata sederhana; Rindu. Selamat malam untukmu dari aku yang mendadak merasakan kesepian. Jadi, sudah berapa halaman yang kita lalui terpisah? Ternyata kita cukup hebat untuk dapat melalui nya ya.. Tak seburuk awal yang ku kira, semua ternyata dapat berjalan baik-baik saja. Namun saat anganku menyeringai terbang memasuki setiap sudut bayangan... Ah! Aku tidak menyukai saat-saat itu. Semua memang baik-baik saja. Aku tahu benar dimana dan dengan siapa aku sedang melangkah. (Walaupun aku tak lagi tau dimana dan dengan siapa kau kini mengarungi rentetan kehidupan) Namun yang tak pernah ku tau, dan beberapa kali aku menyesali ketidakpekaan itu, adalah saat dinding-dinding mengatakan hal klise yang dulu amat ku pahami. Saat sorot mata tajam yang dulu sangat ku benci alih-alih menjadi yang kurindukan kini. Kau yang pergi dan lupa mengajak jutaan memori yang kini mengikuti kemana saja aku pergi. Hei! Aku rindu... Ak...

Apakah rasa itu asa?

Selamat malam, Februari. Waktu berjalan begitu cepat, bukan? Aku tak ingin membolak-balik kembali apa yang sempat terjadi. Karena saat ini ada yang lebih pantas untuk kau ketahui. Mungkin jika Tuhan tak berkenan, semua itu takkan bisa terjadi. Seseorang yang kau ingini memang tak selamanya menjadi yang ada disisi. Perkenalkan, aku pemujamu diam-diam. Aku memang belum memiliki rasa, aku hanya memiliki sekarung asa. Sulit memang untuk membangun sebuah kepercayaan (lagi). Apalagi bagi mereka yang baru saja dikhianati . Namun aku mencoba bangkit (sebut saja begitu) setelah menemui sesosok mentari yang sekiranya akan menghangatkan pagi atau menjadi teman disaat mata ku terbuka oleh sekat yang berkelipan cahaya. Setiap orang pasti akan mengerti. Dan kuharap kau juga dapat mengerti. Membangun kembali apa yang sempat runtuh itu tak semudah mencari bongkahan beras yang berjatuhan diantara kerikil. Lalu jika kau sudah yakin, kembalilah. Lihatlah kembali apa yang seharusnya kau sad...

Bolehkah aku?

Hai, selamat malam.. Kuharap kau dapat menikmati keindahan yang telah Tuhan berikan secara berlimpah kepada siapapun, termasuk dirimu sendiri. Apa kabar? Sudah lama tak bersua dan mendengar kabarmu. Apa kamu tetaplah kamu yang dulu? Atau bahkan sudah berubah menjadi lelaki idaman yang hendak dicari kebanyakan wanita-wanita yang mungkin saat ini sedang sendiri. Haha, pasti lucu membayangkan ekspresimu yang sedang dikejar-kejar oleh para penggemarmu. Oya, maaf tadi hanya sekedar basa-basi saja untuk mengawali rentetan kalimat ku yang akan lebih membosankan daripada itu. Perkenalkan, aku adalah orang yang sempat kau titipkan setengah keping dari hatimu dulu. Aku adalah orang yang dulu "sempat" benar-benar menjaga amanahmu itu. Ah, sudah lama memang. Sekali lagi maaf, jika harus membuatmu membuka kembali lembaran buku-buku lusuh yang sudah kau singkirkan kedalam kardus di loteng rumahmu. Aku hanya ingin bercerita, dan kuharap kau mau mendengarkannya. Hanya membaca dan mende...

Malaikat Kecilku

Sebagaimana cahaya itu ada Sebagaimana pula terang itu tercipta  Andai aku bisa terbang bersama mimpi  Kan kupetik bintang tuk menerangi  Lalu aku pun bergegas pergi  Melangkahkan kaki bersama sunyi Hai kamu ? Masihkah kau disana ? Di sudut-sudut kegelapan Namun kau memberikan rasa terang  Disaat malam datang  Aku tertegun pada keheningan  Keheningan sunyi tanpa teman Malaikat kecilku .. Begitu sapamu Kau memecah keheningan sunyi itu Menjadi aurora terang bersama gemerlapan  Tuhan...  Jika ku punya satu hidup lagi  Bukan tuk ingkari tapi tuk mengerti  Akan keindahan perasaan yang Kau beri  Tentang hati kecil yang sedang menjelajahi Semut kecil bahagia memiliki sapu yang mampu membersihkannya dari debu .. Memiliki hati yang mampu mengajarkannya akan sebuah arti...

Bunda, bolehkah aku mengenal cinta?

Hening suara dalam sunyi.. Waktu itu senja menyapa.. Memberi ketenangan kepada siapa saja.. Dalam kesenyapan itu.. Seseorang menghampiriku.. Indah senyumnya, binar matanya, kesejukan jiwanya.. Dia menenangkanku dengan lantunan ayat suciNya.. Bunda, disaat itu jantungku berdegup kencang.. Mamuji keindahan ciptaanNya.. Aku tak pernah melihat sosok sepertinya.. Begitu tenang hidup di jalanNya.. Bunda, inikah yang dinamakan cinta? Bunda, bolehkah aku mengenal cinta? Aku telah terlanjur terpaut pada hatinya.. Hati yang mencintai Allah lebih dari apapun di dunia.. Ikhwanku yang begitu sempurna dimataNya.. Jadikanlah aku yang kedua dihatimu setelah kau mencintaiNya.. Jadikanlah aku permaisuri di kerajaan cintaNya bersamamu.. Bimbing aku menggapai surgaNya dalam kedahsyatan cinta..