Postingan

Pada Hujan Sore Itu

Kutitipkan rindu ini untukmu, pada hujan sore itu. Apakah gerangan sudah disampaikan olehnya? Tak kunjung kudengar ada sapa balas yang kau rajut dalam kalimat-kalimat apikmu. Kutitipkan salam ini untukmu, pada hujan sore itu. Masihkah kau berdiri dengan keyakinanmu yang dulu? Yang kau banggakan layaknya dedaunan yang bertahan pada ranting yang ia singgahi. Yang tak henti mengemis pada waktu, untuk menyediakan sejenak saja kesempatan bagi "kita" untuk bertemu. Kutitipkan sepucuk surat tersirat ini untukmu, pada hujan sore itu. Tak banyak memang yang bisa ku ucap. Aku tak terlalu pandai dalam menafsirkan kata yang dibentuk oleh hatiku sendiri. Bukankah itu terdengar sangat lucu? Saat perasaanku sendiri, tak lagi dapat aku mengerti. Kutitipkan rasa ini untukmu, pada hujan sore itu. Terngiang manis dalam tiap ingatan kala aku hampir terlelap dalam mimpi setiap malam. Yang terbayang adalah kharisma yang tak henti membuatku menuturkan suka. Menerjemahkan cinta pada...

Kuharap tak ada yang salah dari sebuah pertemuan

Dan deru angin itu masih terus membujukku untuk memasuki bilik yang berbeda dari tempatku kini Seakan ada keresahan yang teramat sangat dari sebuah naluri pahit Hah, lagi-lagi harus ada pertemuan! Dan apa kau tau? Orang yang kutemui itu.... adalah dia yang beberapa kali memasuki pikiranku tanpa permisi sedikit pun.. Jadi bisakah kau menyimpulkan orang macam apakah dia itu? Bak langit merona aurora jingga di tebaran bintang Aku tak lagi samar memandangi dan membayangkan kehadirannya yang nyata Atau mungkin aku baru saja menaruh terlalu banyak harap yang membuatku mengatakan kehadiranmu itu "NYATA" Baiklah, ku akui. Aku memang pengharap dan pemimpi handal. Dan kau adalah objek dari semua itu kini. Ya tentu saja bukan melulu tentangmu, karena hidupku berprinsip pada hal yang ada di depan sana. Hanya saja, kau mendadak menjadi satu yang ku eja dalam beberapa kalimat-kalimat berantakan yang tak pernah orang mengerti. Kuharap tak ada yang salah dari sebuah pertemuan...

Sebut saja, Rindu.

Aku pikir tak terlalu berlebihan jika menamakan ini semua dengan kata sederhana; Rindu. Selamat malam untukmu dari aku yang mendadak merasakan kesepian. Jadi, sudah berapa halaman yang kita lalui terpisah? Ternyata kita cukup hebat untuk dapat melalui nya ya.. Tak seburuk awal yang ku kira, semua ternyata dapat berjalan baik-baik saja. Namun saat anganku menyeringai terbang memasuki setiap sudut bayangan... Ah! Aku tidak menyukai saat-saat itu. Semua memang baik-baik saja. Aku tahu benar dimana dan dengan siapa aku sedang melangkah. (Walaupun aku tak lagi tau dimana dan dengan siapa kau kini mengarungi rentetan kehidupan) Namun yang tak pernah ku tau, dan beberapa kali aku menyesali ketidakpekaan itu, adalah saat dinding-dinding mengatakan hal klise yang dulu amat ku pahami. Saat sorot mata tajam yang dulu sangat ku benci alih-alih menjadi yang kurindukan kini. Kau yang pergi dan lupa mengajak jutaan memori yang kini mengikuti kemana saja aku pergi. Hei! Aku rindu... Ak...

Apakah rasa itu asa?

Selamat malam, Februari. Waktu berjalan begitu cepat, bukan? Aku tak ingin membolak-balik kembali apa yang sempat terjadi. Karena saat ini ada yang lebih pantas untuk kau ketahui. Mungkin jika Tuhan tak berkenan, semua itu takkan bisa terjadi. Seseorang yang kau ingini memang tak selamanya menjadi yang ada disisi. Perkenalkan, aku pemujamu diam-diam. Aku memang belum memiliki rasa, aku hanya memiliki sekarung asa. Sulit memang untuk membangun sebuah kepercayaan (lagi). Apalagi bagi mereka yang baru saja dikhianati . Namun aku mencoba bangkit (sebut saja begitu) setelah menemui sesosok mentari yang sekiranya akan menghangatkan pagi atau menjadi teman disaat mata ku terbuka oleh sekat yang berkelipan cahaya. Setiap orang pasti akan mengerti. Dan kuharap kau juga dapat mengerti. Membangun kembali apa yang sempat runtuh itu tak semudah mencari bongkahan beras yang berjatuhan diantara kerikil. Lalu jika kau sudah yakin, kembalilah. Lihatlah kembali apa yang seharusnya kau sad...

Bolehkah aku?

Hai, selamat malam.. Kuharap kau dapat menikmati keindahan yang telah Tuhan berikan secara berlimpah kepada siapapun, termasuk dirimu sendiri. Apa kabar? Sudah lama tak bersua dan mendengar kabarmu. Apa kamu tetaplah kamu yang dulu? Atau bahkan sudah berubah menjadi lelaki idaman yang hendak dicari kebanyakan wanita-wanita yang mungkin saat ini sedang sendiri. Haha, pasti lucu membayangkan ekspresimu yang sedang dikejar-kejar oleh para penggemarmu. Oya, maaf tadi hanya sekedar basa-basi saja untuk mengawali rentetan kalimat ku yang akan lebih membosankan daripada itu. Perkenalkan, aku adalah orang yang sempat kau titipkan setengah keping dari hatimu dulu. Aku adalah orang yang dulu "sempat" benar-benar menjaga amanahmu itu. Ah, sudah lama memang. Sekali lagi maaf, jika harus membuatmu membuka kembali lembaran buku-buku lusuh yang sudah kau singkirkan kedalam kardus di loteng rumahmu. Aku hanya ingin bercerita, dan kuharap kau mau mendengarkannya. Hanya membaca dan mende...

Malaikat Kecilku

Sebagaimana cahaya itu ada Sebagaimana pula terang itu tercipta  Andai aku bisa terbang bersama mimpi  Kan kupetik bintang tuk menerangi  Lalu aku pun bergegas pergi  Melangkahkan kaki bersama sunyi Hai kamu ? Masihkah kau disana ? Di sudut-sudut kegelapan Namun kau memberikan rasa terang  Disaat malam datang  Aku tertegun pada keheningan  Keheningan sunyi tanpa teman Malaikat kecilku .. Begitu sapamu Kau memecah keheningan sunyi itu Menjadi aurora terang bersama gemerlapan  Tuhan...  Jika ku punya satu hidup lagi  Bukan tuk ingkari tapi tuk mengerti  Akan keindahan perasaan yang Kau beri  Tentang hati kecil yang sedang menjelajahi Semut kecil bahagia memiliki sapu yang mampu membersihkannya dari debu .. Memiliki hati yang mampu mengajarkannya akan sebuah arti...

Puisi Kecil Untuk Bintang

Semalam tadi aku berdoa Akan datangnya sebuah masa Dimana kita akan bersama Mencipta tawa dalam air mata             Sentuhan kecil yang dia punya             Membuatmu tertawa dalam fana dunia Cahaya terang , lentera malam.. Hanya harap yang aku punya Dalam elegi kenistaan Dan kebohongan kehidupan             Masih terngiang sebuah nada             Mencipta harmoni kebersamaan kita Saat salah satu bintang biru redupkan cahaya Ingatlah masih ada bintang merah pancarkan sinar mereka             Bintang dalam sepiku             Bintang dalam tawaku             Bintang dalam s...